A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/news.php

Line Number: 161

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/news.php

Line Number: 169

AETI - Asosiasi Eksportir Timah Indonesia

News

December

2
2015

Bisnis Indonesia-Jakarta

Kementerian Perindustrian meminta agar Kementerian dan Lembaga terkait, memberi kepastian insentif fiskal kepada industri smelter yang tengah melaksanakan pembangunan untuk mempercepat program penghiliran.

I Gusti Putu Suryawiryawan, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, mengatakan kepastian pemberian insentif fiskal utamanya tax holiday dapat mempercepat proyek pembangunan smelter yang saat ini mulai melambat akibat kesulitan pendanaan.

"Menurut saya, penyelesaiannya adalah memberikan tax holiday kepada investor yang kesulitan pendanaan hingga berakibat proses pembagunan melambat. Harus kita bantu, karena telah terlihat mereka tidak akan mundur, akan terus maju dan menciptakan lapangan kerja," ujarnya Selasa(1/12).

Menurutnya, Pemerintah jangan melihat tax holiday dapat merugikan penerimaan negara. Pasalnya, kepastian pemberian tax holiday dapat meningkatkan investasi di Indonesia dan berujung pada peningkatan lapangan kerja serta penerimaan pajak. Khusus produk hasil pemurnian alumina, lanjutnya, PT Indonesia Asahan Aluminiium (Inalum) akan ekspansi untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 400.000 ton aluminium dari 250.000 ton per tahun, agar dapat menyerap sekitar 1 juta ton alumina hasil produksi smelter dalam negeri.

KONSISTEN

Di pihak lain, Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan Indonesia akan maenad net eksportir alumina jika Pemerintah konsisten mengimplementasikan penghiliran dan mendorong realisasi pembangunan smelter bauksit di Tanah Air.

"Keadaan ini akan jauh berbeda dengan kondisi sebelum larangan ekspor mineral mentah diterapkan pada 12 Januari 2014, yang menunjukkan Indonesia salah satu eksportir terbesar bijih bauksit dengan 45 juta ton dan mengimpor alumina dari luar negeri," tuturnya. Kendati saat ini realisasi pembangunan smelter bauksit mengalami perlambatan, lanjutnya, Indonesia berpotensi mengolah dan memurnikan bauksit menjadi alumina dengan kapasitas sekitar 9 juta ton per tahun.

Kapasitas produksi tersebut secara langsung dapat menyerap sekitar 9.000 tenaga kerja baru. Efek ganda yang ditimbulkan akan menumbuhkan sentra industri baru baik di level nasional maupun Pemerintah Daerah.

Selama ini, lanjutnya, 70% bijiih bauksit Indonesia diekspor ke China, sementara Indonesia kembali mengimpor alumina dari Australia. Pola yang tidak sehat ini secara langsung merugikan negara dan masyarakat. 

Haris Munandar N., Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian, mengatakan kepastian menerima insentif tax holiday dan tax allowance dapat dimanfaatkan oleh investor dalam pengajuan pendanaan kepada Perbankan.

"Jika investor telah dipastikan mendapat insentif, pihak Perbankan akan semakin percaya memberikan pinjaman. Dengan demikian proyek pembangunan dapat segera diselesaikan," tuturnya.

Jonatan Handojo, Ketua Asosiasi Perusahaan Pengolahan dan Pemurnian Indonesia, mengatakan proses pengajuan dan persetujuan insentif tax holiday untuk industri smelter yang telah berjalan, sulit didapatkan. "Tax holiday ini tidak semudah yang dibayangkan oleh publik. Bagi kami yang telah berdiri sangat sulit mendapatkannya. Ini menjadi masalah juga, karena kemampuan industri untuk berekspansi menjadi terbatas," katanya.